Suku Kemak adalah salah satu suku besar yang ada di Kabupaten Belu. Suku Kemak terdiri dari beberapa suku besar, yaitu; Kemak Oho, Kemak Leolima, Kemak Sanirin, Kemak Marobo.
Tulisan ini mengupas tradisi Suku Kemak Oho tentang ritual adat dalam bertani yang merupakan penyatuan dengan kekuatan leluhur. Suku Kemak Oho memiliki bermacam-macam ritual adat. Ritual adat ini merupakan kepercayaan bersama segenap anggota Suku Kemak Oho. Prosesi penanaman tanaman pertanian dan perkebunan, dilalui beberapa proses, antara lain:
Luli ahi
Luli ahi dapat disamakan dengan bentuk penyatuan diri manusia (Suku Kemak Oho –red) dengan alam dan mohon penyertaan leluhur. Ritual Luli Ahi dilaksanakan saat musim tanam jagung dan padi. Dua hari setelah bertanam, seluruh anggota suku besar Kemak Oho, jam empat subuh sudah harus bangun. Mereka memasak makanan dan menyantapnya sebelum jam jam lima pagi. Setelah jam lima pagi api yang tadinya untuk memasak makanan dimatikan. Semua anggota suku tak terkecuali; besar-kecil, dan tua keluar dari rumah. Mereka pergi berburu di hutan atau ke sungai menangkap ikan. Selama ritual ini berlangsung dilarang ada api yang menyala termasuk merokok, berbicara dengan suara keras atau mengeluarkan bahasa-bahasa kotor (makian –red).
Jam 6 sore, semua suku besar boleh pulang ke rumah. Apimulai bisa diyalakan untuk memasak hasil buruan yang di peroleh.
Biru api luta
Prosesi biru api luta dilaksanakan satu minggu setelah luli ahi. Biru api luta dilakukan saat tanaman yang ditanam berusia dua sampai tiga minggu. Petani dari anggota suku Kemak Oho membersihkan atau menyiangi rumput tanaman jagung di ladang dan di sawah masing-masing.
Setiap malam semua anggota Suku Oho berkumpul di rumah suku dan memanggil roh-roh leluhur dengan cara menari dan tebe-tebe agar leluhur dan alam senantiasa menyertai. Segala jenis tanaman yang ditanam terjauhkan dari serangan hama. Biru api luta dilaksanakan selama dua minggu.
Haa luha
Haa luha adalah prosesi setelah biru api luta. Haa luha terjadi setelah kesepakatan antara anggota suku pria yang di sebut uma mane dengan tumang suku (ketua suku) menyangkut waktu dan tanggungan setiap anggota suku. Prosesi haa luha terjadi selama satu hari penuh. Pihak uma mane membuat tenda dari daun kelapa untuk tempat inap menantu-menantu dalam suku (Mane heu). Uma mane membawa babi, sopi (arak), beras. Sedangkan anggota suku wanita yang telah berkeluarga membawa ayam, kopi-gula, sirih-pinang, dan kemiri yang telah ditumbuk bersama kapas dan dililit pada sebatang kayu sebagai penerangan.
Saat itu ada yang ditugaskan membunuh babi dan ayam yang dibawa dan membaginya kepada Mane heu yang ada dalam tenda penginapan. Pembagian daging itu diisi dalam takulu (tempat sirih) yang terdiri dari daging dan sirih pinang. Mane heu membawa pulang ke rumah semua pemberian yang diterima. Sedangkan kepala suku mendapat kepala dan belahan belakang babi yang dipotong tidak terputus. Kepala babi serta potongan lainya itu tidak dimakan oleh kepala suku tetapi diberikan kepada pihak Mane heu. Mane heu penerima daging yang diberikan kepala suku berwajiban menggantinya dengan satu ekor sapi dan belak dan diberikan kepada pihak Uma mane yang membawa Babi. Dalam bahasa kemak disebut tumar no barau uma lara.
Nilai yang ditegaskan dari hal ini, yakni Mane heu membalas kembali pengeluaran Uma mane demi kelangsungan hidup mereka selanjutnya.
Gelo sele
Gelo sele adalah ritual syukuran kepada leluhur dan alam atas hasil panenan yang telah di dapat dalam satu tahun bertanam itu. Semua anggota suku membawa jagung, padi dan hasil ladang lainya ke rumah suku. Jagung atau padi yang di bawa dalam bentuk utuh mulai dari batang, daun dan pulirnya dalam satu ikatan terdiri dari sepuluh sampai dua belas batang (sele ai bau). Dalam ritual ini, tanggungan bagi baik Uma mane maupun Mane heu tidak di bebankan lagi. Pihak Uma mane dan mane heu cukup membawa beras, anjing atau ayam dan sirih-pinang untuk melaksanakan kegiatan hari itu.
Semua anggota suku boleh memakan habis makanan dan bawaan lain yang ada. Setelahnya kepala suku memberi kabah (tanda dari sirih yang dimakan) di dahi setiap anggota suku. Saat itu pula kepala suku boleh makan jagung, pucuk sayuran muda. Sebelum dilakukan ritual ini kepala suku tidak diperkenankan memakan segala jenis buah-buahan dan sayuran mudah.