|
left_menu
|
|
LEGENDA SUMBER AIR LAHURUS |
|
Oleh: (Genoveva Bikan & Puplius M. Buru)
Tulisan ini sengaja ditempatkan setelah cerita mengenai suku Melus karena legenda sumber air Lahurus sangat erat kaitannya dengan peristiwa pengusiran orang Melus. Tulisan ini berusaha merangkum tradisi lisan tentang munculnya sumber air Lahurus yang diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. detail |
| |
|
|
Dari Luli Ahi Hingga Gelo Sele |
|
Oleh: Yanuaris Pareira
Tulisan ini mengupas tradisi Suku Kemak Oho tentang ritual adat dalam bertani yang merupakan penyatuan dengan kekuatan leluhur. Suku Kemak Oho memiliki bermacam-macam ritual adat. Ritual adat ini merupakan kepercayaan bersama segenap anggota Suku Kemak Oho. Prosesi penanaman tanaman pertanian dan perkebunan, dilalui beberapa proses, antara lain detail |
| |
|
|
Tue Nala Ho'on Media Perdamaian Lokal Suku Bunaq |
|
Oleh: Charles mau dan Charles Anyi
Seiring dengan perkembangan zaman dan arus globalisasi yang kian meningkat, berpegaruh terhadap aspek kehidupan. Salah satunya adalah tradisi/budaya lokal kian hari kian surut dari realita kehidupan.
Generasi muda saat ini mulai menyepelehkan bahkan melupakan tradisi warisan leluhur. Mengatasi persoalan yang ada di sekitar kita dapat dilakukan menggunakan media lokal, seperti "TUE NALA HO'ON" di masyarakat Bunaq. detail |
| |
|
|
KONSEP DAN APLIKASI EKONOMI BERBASIS MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN KESEJAH |
|
Oleh: Dr. Thomas Ola Langoday, M.Si
Saya berpendapat bahwa baik aras konsep, aplikatif maupun objektivenya ilmu ekonomi bergerak menuju satu tujuan yaitu kesejahteraan masyarakat. Hanya saja dalam ilmu ekonomi terdapat banyak agen/pelaku ekonomi. detail |
| |
|
| |
|
|
|
| Posted at
29-07-2009 | 03:13:16 |
|
MEMBUDAYAKAN PANGAN LOKAL |
DI pojok kiri halaman Kantor Gubernur NTT terpancang sebuah bilbor (tetapi tidak pernah di-bill) dengan foto gubernur dan wakil gubernur yang mengimbau agar "hari Kamis katong makan pangan lokal".
Apa itu pangan lokal? Nasi? Padi, kelompok tumbuhan penghasil cereal dari mana nasi berasal, bukan sesuatu yang 'amat' asli tetapi berasal dari India. Memang perlu ada tanda petik pada adverbia 'amat' karena beberapa varietas yang kurang unggul memang asli juga, tetapi kemudian menjadi tidak populer sebagai kelompok penyuplai karbohidrat. Jagung? Jagung juga bukan jenis tanaman yang asli karena didatangkan dari Amerika Latin. Ubi-ubian? Ubi kayu atau singkong diperkenalkan oleh misionaris. Ubi jalar atau ubi rambat ada juga yang asli, tetapi yang didatangkan dari luar memang lebih unggul. Sebaliknya juga benar, buah apel yang datang nun jauh dari Selandia Baru atau Malang sudah pernah dan kini dibudidayakan lagi di SoE, sementara salak dan rambutan yang selalu naik pesawat dari Surabaya, kini tumbuh meriah di seluruh pelosok Adonara.
Tentu lokal tidak dapat disamakan dengan asli, karena yang asli dan yang tidak asli ada dalam lokus yang sama, jadi sama-sama lokal. Dengan demikian imbauan untuk mengonsumsi pangan lokal harus direspon dengan hati-hati untuk menghindari dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah kecenderungan meromantisir dan merekayasa sebuah citra sosial bahwa yang datang dari luar itu buruk, mengancam, harus dicurigai dan karena itu kita perlu menghargai kepribadian kita, jati diri kita, keaslian kita agar tidak terkontaminasi virus dan bahaya yang datang dari luar. Yang asli itu baik, luhur, indah dan karena itu harus diperlihara dan dilestarikan. Sementara ide pelestarian budaya (di mana makanan merupakan salah satu wujud konkretnya) perlu kita dukung sepenuhnya, dalam kenyataan aktual, barangkali justru sebaliknya yang terjadi. Yang 'lokal' itu biasa-biasa saja, sementara yang datang dari luar itu bagus dan unggul. Jelaslah bahwa jambu bangkok lebih besar dan lebih laku di pasaran dari jambu klutuk dan ayam bangkok lebih dulu dilirik sebelum ayam kampung. Demikian pula berbagai jenis beras yang pulen dan wangi yang kini bisa dipanen di Mbai, Nagekeo atau di Kodi, Sumba Barat dihasilkan dari jenis padi yang didatangkan dari luar setelah dilakukan rekayasa genetika. Selaras dengan ini, yang dikeluarkan (misalnya yang dieskpor, dan kemudian diberi label 'kualitas ekspor') juga merupakan yang terbaik, sementara yang dikonsumsi sendiri umumnya berkualitas medioker. Jadi imbauan untuk mengonsumsi pangan lokal tidak harus dimengerti sebagai mengonsumsi apa yang kita hasilkan sendiri dan menolak apa yang datang dari luar, melainkan perlu dipahami sebagai harapan untuk mengeksplorasi sumber-sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang secara potensial ada dalam makanan setempat tetapi diabaikan dan kalau boleh menjadikannya aset ekonomi yang bisa dijual ke luar. Sumber zat-zat penting bagi tubuh tidak hanya terdapat dalam roti, biskuit, sosis, susu, keju, mentega, ercis, pir, apel dan rambutan, tetapi juga ada dalam nasi, jagung, ubi, pisang, kelapa, jeruk, dan berbagai jenis sayuran yang dipanen dari kebun dan halaman rumah, walaupun yang disebut terakhir tidak mesti disebut 'lokal' dan yang disebut pertama tidak harus berarti 'non-lokal'.
Ekstrem kedua yang perlu dihindari adalah menarik garis demarkasi antara yang lokal dan non lokal. Di dunia ini tak satu kebudayaan pun yang bisa mengklaim bahwa seluruh unsur budayanya berasal dari lingkungannya yang tertutup. Destar yang bertengger di kepala pria NTT adalah destar batik. Saya pernah menanyakan hal ini kepada sejarawan dan peneliti budaya, P. Piet Petu, SVD, dan beliau mengatakan bahwa dalam kelengkapan busana adat sebagian besar suku di NTT memang ada unsur Jawanya sebagai unsur konstitutif. Topi ti'i langga di Rote bukan 'melayu asli' tetapi blasteran daun lontar dan topi sombrero Meksiko. Saya juga pernah menyaksikan pameran busana tradisional beberapa negara Amerika Latin, dan saya menjadi kaget menyaksikan motif-motifnya: apakah beberapa motif tenun ikat yang ada di Flotim diperkenalkan oleh Portugis ataukah motif-motif sandang dari daerah ini dibawa dan dimodifikasi di sana? Dalam sebuah ekspo di Nagoya, Jepang tahun 2005, pakaian tradisional orang Selandia Baru dengan motif dominan hitam dan kuning emas membuat kami, para mahasiswa asal NTT, bertanya dalam hati, apakah ada hubungan antara Selandia Baru dengan Bajawa dan Nagekeo. Hal yang sama juga berlaku untuk pangan, seperti yang sudah dikatakan di atas. Apakah jagung itu lokal atau bukan lokal? Apakah singkong itu lokal atau bukan lokal? Lalu yang dimaksudkan dengan 'makan pangan lokal itu' pangan lokal yang mana? Orang Alor mematenkan jagung titi, tetapi produsen dan konsumen terbesar jagung titi adalah orang Flores Timur. Apakah orang Flotim harus memarahi orang Alor karena mematenkan sebuah benda yang secara empiris lebih merupakan produk budaya masyarakat lain? Sampai di sini batas itu menjadi tidak penting karena lalu lintas perjalanan makanan begitu ramai sehingga tidak ada daerah yang bisa mengklaim jenis makanan tertentu sebagai produk eksklusif daerahnya. Memang ada soto Madura, gudek Yogya, tahu Sumedang, empek-empek Palembang, kompiang Manggarai atau ubi Nuabosi, tetapi ini lebih baik dipandang sebagai merek dagang pelaris, dan bukan milik eksklusif daerah. Di sinilah imbauan dua petinggi NTT ini menjadi relevan: nilai nutrisi dan nilai ekonomi dari berbagai jenis pangan yang ada di daerah ini tidak boleh diabaikan. Dia harus dijadikan aset ekonomi dalam konteks yang lebih luas.
Nasi atau Jagung?
Tahun 1970-an ketika saya masih siswa SMP, makan nasi merupakan prestise. Di Desa Waibalun waktu itu beberapa rumah mengoperasikan mesin giling jagung dan dari pagi hingga malam selalu kedengaran bunyi mesin giling, rrrrrrrrrrrkk, grrrk, grrrk, grrrk yang pemakaiannya dibayar dengan sepersepuluh dari jumlah jagung yang digiling. Dari hasil gilingan ini dapat dihasilkan tiga tingkatan prestise: (1) wata's n gor yaitu jagung giling yang ditanak bersama maizena yang kemudian dimakan bersama ikan n k ngk yaitu ikan yang dimasak dengan cuka atau sayur bening berbahan dasar daun kelor; (2) nasi yang dicampur (naliń) jagung dengan porsi jagung yang lebih banyak; (3) nasi jagung dengan porsi jagung yang lebih sedikit. Terlihat di sini bahwa semakin sedikit jagungnya semakin tinggi prestisenya. Dan prestise yang paling tinggi tentu saja nasi putih tanpa jagung sama sekali. Tahun 1979 ketika duduk di kelas III SMA Seminari Hokeng, saya bersama teman-teman yang kini sudah menjadi petinggi di berbagai lini, sebut saja Dr. Sony Keraf yang pernah menjadi Menteri Lingkungan Hidup di zaman Gus Dur dan kini menjadi pengurus teras PDIP, Dr. Leo Lapon Tukan yang menjadi dosen hukum di Undip, Drs. Simon Hayon yang kini Bupati Flotim atau Dr. Grabriel Unto da Silva yang menjadi Sekretaris Uskup Larantuka, melakukan dharma-wisata atau boleh juga widya-wisata ke Paroki Witihama, dan di sana kami dijamu dengan nasi dan lauk-pauk yang enak-enak. Umat paroki kemudian melakukan kunjungan balasan ke sekolahan kami, dan dapur kami — tentu saja di luar kontrol kami — menyajikan nasi jagung dengan campuran jagung yang jauh lebih banyak dari pada berasnya, sehingga hidangan di meja kelihatan lebih kuning dari harapan kami: putih. Beberapa teman saya merasa malu dengan balasan yang kurang patut ini lalu melakukan demo. Rektor seminari yang memandang demonstrasi sebagai perilaku yang tidak berterima mengeluarkan beberapa pendemo dari sekolah dan asrama, meskipun dengan pengeluaran itu mereka kini menjadi petinggi di berbagai bidang kehidupan.
Cerita nostalgia ini memperlihatkan bahwa dalam perjalanan sejarah, prestise nasi belum terkalahkan jagung. Kalau sekarang ada gerakan budi daya jagung plus imbauan untuk meningkatan asupan karbohidrat dari bahan jagung, maka gerakan persiapan adalah meningkatan prestise jagung dengan berbagai cara.
Selain peningkatan prestise, peningkatan produksi jagung perlu diikuti diversifikasi usaha dan produk berbasis jagung, dan mekanisasi produksi untuk menghasilkan produk makanan jagung yang selama ini dikerjakan secara manual, tanpa mengurangi cita-rasa yang asli, yang memang digemari. Di sini teman-teman di Fakultas Teknik yang berkiprah dan berminat di bidang rekayasa teknologi tepat guna harus didorong dan didanai untuk berpikir bagaimana memanfaatkan batang jagung, kulit buah jagung, tongkol jagung, dan biji jagung; sementara itu pengusaha harus berani dan didorong menanam modalnya untuk pabrik pengalengan jagung muda, biskuit berbahan maizena, roti jagung, emping jagung, corn chips dan seterusnya. Di Bandara El Tari dijual emping jagung yang menjadi oleh-oleh yang manis buat sanak kerabat di Jawa. Emping jagung ini pasti dibuat secara mekanis di mana tuas pada mesin pemipihnya berbahan logam. Teman saya, dosen Fakultas Teknik Undana, sedang berpikir dan merancang sebuah alat pemipih jagung yang tidak terbuat dari logam melainkan dari batu agar cita-rasa jagung titi yang sudah terkenal ke berbagai belahan bumi tetap dipertahankan dan menjadi marketable.
Pangan dan Pengentasan Masyarakat Miskin
Tahun 2006 angka Rp 137.147 dicantumkan sebagai garis kemiskinan NTT. Ini artinya untuk satu jiwa dibutuhkan uang sejumlah ini untuk memenuhi asupan gizi minimum, pakaian minimum dan perteduhan minimum. Kurang dari angka ini, orang bersangkutan masuk dalam kategori miskin. Tahun 2009 angka ini pasti meningkat menjadi sekitar Rp 160.000an, tetapi seorang teman saya dari FMIPA Unwira, Dr. Yos Laynurak, membuat perhitungan yang lain sama sekali. Dalam kalkulasinya garis kemiskinan NTT adalah Rp 228.000.
Dari jumlah ini kebutuhan untuk pangan menghabiskan Rp.153.000 atau sekitar 67 persen. Kalau penduduk miskin NTT besarnya 27,58 persen (2006), maka dari 4,6 juta penduduk ada 1,27 juta penduduk miskin. Ini berarti harus tersedia dana sekurang-kurang Rp 194 M agar 1,27 juta lebih penduduk miskin ini bisa keluar dari garis kemiskinan dan bisa hidup layak sebagai manusia, hanya dari aspek pangan saja. Kalau ini dibagi rata ke 21 kabupaten/kota maka seorang bupati/walikota harus memasok dana sebesar Rp 9,24 M setiap bulan atau sekitar Rp 110 M per tahun untuk penanggulangan kemiskinan di bidang pangan saja. Kalau penduduk miskin sudah mampu memasok separohnya, maka alokasi Rp 55 M dari sebuah APBD kabupaten tentu perlu disepersiapkan, apabila masyarakat miskin mau dientaskan.
Andaikan imbauan untuk makan pangan lokal ini dilakukan dengan kampanye perbaikan citra makanan lokal disertai kemauan politik untuk melakukan diversifikasi usaha pascapanen (jagung), dan ini berhasil diwujudkan 50 persen saja, maka bukan tidak mungkin angka kemiskinan bisa ditekan hingga 30 persen.*
Sumber: PosKupangCom
|
| Post by:
Admin |
|
|
|
|