Mangan tidak mendatangkan keuntungan ekonomi tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan. Beberapa warga yang menggali mangaan secara manual, kini menderita sakit. Thres (50), asal Kuneru RT.14, Kelurahan Manumutin, sebelumnya melakukan aktifitas penggalian mangan, kini ia terbaring sakit dirumahnya. Ditemui Demos, Senin (16/05) dikediamannya, suami Thres, Pit Koli (60) mengakui isterinya menderita sakit semenjak menggali mangaan di Ponu.
"Istri saya sudah sakit dua minggu. Dia belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. Sejak pulang gali mangaan di Ponu, ia mengeluh sakit. Mulai dari kepala, batuk darah, tidak bisa mendengar dan kadang-kadang sering keluar darah dari telinga", ujar Koli.
Koli menyesalkan kalau saja istrinya tidak pergi gali biji mangaan, pasti tidak mengalami penyakit seperti ini. Bahkan, ia mengkau bahwa istrinya tidak bisa dibawa rumah sakit karena ongkos tidak cukup.
"bagaimana mungkin saya bisa membawa istri saya ke rumah sakit. Harga jual mangaan cuma Rp. 1.500/kg. Dihitung denga perjalan ke lokasi penggalian mangaan, makan minum selama di lokasi, biayanya lebih besar dari pendapat penjualan mangaan", sesal Pit
Pit mjenghimbau kepada masyarakat, lebih baik bekerja sebagai patani biasanya dari pada mencari nafkah dengan menggali dan menjual mangaan.
"Sejak dahulu, kita hidup seperti biasanya dapat makan minum tanpa harus gali Biji Mangaan. Pengalian biji Mangaan justeru menimbulkan masalah dan mungkin satu tahun ke depan masyarakat Belu akan mengalami bermacam-macam penyakit yang tidak bisa di sembuhkan", tandas Koli. landa
-