Banjir bandang akibat luapnya Bendungan Benenain pertengahan mei 2010 kembali menerjang wilayah Selatan Kabupaten Belu. Sebanyak 3. 816 rumah milik warga di lima kecamatan yakni; Kecamatan Malaka Barat, Malaka Tengah, Kobalima, Kobalima Timur dan Kecamatan Weliman terendam dan hanyut terbawa banjir. Kerusakan paling parah dialami warga di Kecamatan Kobalima. Sepuluh rumah warga hanyut, lima rumah rusak berat dan 28 rumah rusak ringan. Sementara empat kecamatan lainnya juga mengalami nasib yang sama, yakni rumah terendam dan hanyut serta meluluhlantakan tanaman pertanian seperti; padi, jagung, ubi dan sayur-sayuran.
Data yang dihimpun wartawan di lokasi kejadian, kepala keluarga yang rumahnya terendam banjir mencapai 3.816 kepala keluarga. Di Kecamatan Malaka Barat meliputi Desa Fafoe 132 kepala keluarga, Desa Sikun 141 kk, Desa Umatoos 112 kk, Desa Motaain 114 kk, Desa Lasaen 120 kk, Desa Oanmane, 141 kk. jumlah kepala keluarga yang terendam banjir 760.
Sementara di Kecamatan Weliman, yakni; Desa Angkaes 187 kk, Wederok 241 kk, Lamudur 274 kk, Forek Modok 350 kk. jumlah 1.852 kk. Kecamatan Malaka Tengah, yakni; Desa Fahiluka 326 kk, Lawalu 312 kk, Naiman 213 kk jumlah 1050 kk. Kecamatan Kobalima Timur meliputi Desa Alas Selatan 34 kk dan Kecamatan Kobalima; Desa Raenawe, 129 kk, Lakekun Barat 25 kk. jumlah 154 kk total kepala keluarga yang terendam banjir di Kabupaten Belu 3.816.
Warga yang umumnya berprofesi sebagai petani sawah dan ladang harus mengalami kerugian yang tak terhitung. Dalam sekejab mata, hasil kebun seperti; ubi, jagung, tomat, padi, kacang dan pisang dihempas banjir. Bukan cuma itu, perabot rumah, hewan piaraan, juga terbawa banjir. Warga yang kebanyakan eks pengungsi Timor-Timur ini, pasrah saat terjadi banjir.
Menurut, Lindi Berek, saat banjir terjadi warga kampung Metamauk berteriak histeris dan minta tolong. Semua warga berhamburan keluar rumah menyelematkan diri masing-masing. Ketinggian banjir saat itu mencapai satu hingga tiga meter. Sekirar pukul 23.00. wita warga berusaha memberi pertolongan satu sama lain.
Lindi Berek meminta pemerintah baik kabupaten dan provinsi tidak menutup mata untuk mengupayakan bantuan bagi para korban bencana yang rumahnya hanyut bahkan rusak parah. Ia mangaku, mereka mendapat bantuan dari Pemkab Belu. Sedangkan pemerintah provinsi NTT maupun pemerintah pusat, dua kilogram beras dan dua bungkus mie.
Sementara itu, Bupati Belu, Joakim Lopez mengatakan, banjir di Kobalima merupakan banjir besar mengakibatkan kerusakan paling parah dan luar biasa. Pemerintah daerah Kabupaten Belu, melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Belu segara setelah banjir melakukan penanganan darurat.
Hutan Rusak
Banjir bagi warga Selatan Kabupten Belu terutama Besikama, Betun dan Weliman bukan hal baru. Setiap tahun warga mengalami bencana banjir yang sama. Bila hujan dalam waktu yang lama maka sungai Benenain dipastikan meluap merendam perumahan dan lahan pertanian warga.
Sementara Kecamatan Kobalima dan Kobalima Timur setiap tahun di daerah Alas Selatan mengalami banjir akibat luapan air dari Kali Motabulu dan Abad Seli. Rusaknya hutan kateri dan wemer memicu banjir setiap saat.
Banjir belakangan setiap tahun terjadi ditengarai akibat rusaknya hutan lindung di Kabupaten Belu. Menurut warga Metamauk, Yohanes Seran, penanganan terhadap hutan lindung sampai saat ini belum dilakukan. Akibatnya, banjir terus terjadi setiap tahun. Dicontohkan, hutan di Nurobo, Halilulik, Betun, Besikama, Weliman dan Kobalima kondisinya saat ini memprihatinkan. Janji pemerintah untuk merehabilitasi hutan lindung di wilayah-wilayah ini hingga saat belum terealisir.
Uskup Atambua,Dominikus Saku yang dihubungi wartawan terkait kerusakan lingkungan di Kabupaten Belu yang cukup parah memaparkan kurangnya atensi pemerintah terhadap pelestarian hutan.
Ia mencontohkan pengamanan di Hutan Jati Nenuk hanya menambah permasalahan habisnya pohon jati disekitar pos polisi. Banyak pohon besar tidak terlihat dan hanya menyisahkan pohon kecil yang kemungkinan habis dibabat oknum tidak bertanggungjawab.
Uskup berharap agar hutan di daerah rawan banjir segera ditangani agar tidak lagi terjadi banjir setiap musim hujan. Atok Siprianus
-