Kepala Desa Asumanu, Anton Suri, mengintimidasi warga terkait harga jual mangan. Manggan yang dibeli Suri dianggap tidak manusia karena berada di bawa harga jual pembeli lain. Namun, warga tidak bisa berbuat banyak karena Suri adalah kepala desa.
Hal ini terungkap dalam pertemuan terbatas yang digelar Sekolah Demokrasi Belu di Asumanu, 15 Juni lalu. Menurut Anton Mauk, harga mangan yang ditimbang Kepala Desa Suri hanya seribu rupiah. Sementara pengusaha lain yang menawar dengan harga diatas Rp. 1.000 tidak diperbolehkan kepala desa. Hal ini menurutnya sangat tidak menusiawi karena tugas kepala desa sesunggungnya bukan menjadi pengusaha mangan tetapi melayani kebutuhan masyarakat.
Bukan cuma persoalan mangan yang diangkat masyarakat dalam diskusi itu. Masalah pembangunan desa tidak dilakukan Suri. Menurut warga, kepala desa tidak pernah melakukan musyawarah pembangunan bersama para kepala dusun. Empat dusun yang ada di Asumanu, yakni; Ninluli, Fatubeilou,Leo Manehat dan Nuaderok belum mendapat jamahan pembangunan pemerintah daerah Kabupaten Belu. Salah satunya, banjir dari kali Maubusa tiap tahun melanda warga setempat tetapi tidak diperhatikan pemerintah desa.
Daniel Bere misalnya, mengaku tidak mendapatkan resetlemen karena kepala desa tidak mengajukan proporsal untuk mendapatkan rumah. Padahal desa ini lebih banyak dihuni warga miskin yang sangat membutuhkan rumah. Bahkan lanjut Daniel Bere, Desa Asumanu juga sangat kesulitan air bersih. Sumber air We Matan Wai yang diimpikan warga Asumanu tidak dialirkan hingga saat ini.
Stefanus Mau, warga lain yang hadir dalam kegiatan itu meminta pemerintah segera mendatangkan aliran listrik. Memasuki usia ke enam puluh lima tahun, warga Desa Asumanu masih hidup di alam gelap. Sayangnya, keluhan masyarakat itu tidak didengar dan ditanggapi Kepala Desa Suri. Suri karena berhalangan hadir walaupun sudah diundang.
Hasil pantauan wartawan Demos, disekitar rumah Suri tidak ada penghuni selain tumpukan mangan hasil timbangan yang belum sempat dibawa keluar. Kesulitan mendapatkan konfirmasi Suri, siswa Sekolah Demokrasi Belu tetap melaksanakan diskusi terbatas yang dimotori Siprianus Atok dan lima teman lain, yakni; Robert Keys, Remi Bere Sawak, Yulianus Seran, Serfinus Berek dan Yolanda Araujo Tilman.
Untuk diketahui, tahun 80-an Desa Asumanu dikenal sebagai daerah primadona kacang tanah, kacang hijau, bawang dan jagung. Memasuki tahun 2000-an penduduk Desa Asumanu beralih profesi menjadi kuli di Malaysia. Tinggal beberapa penduduk yang konsisten membangun desa. Sebagian warga masih mengandalkan hasil kerja bertani sawah di Maubusa, sebagian masih mengandalkan tani ladang dengan menanam jagung dan umbi-umbian. Sebagian lagi memilih jalan pintas menggali batu mangan di Liansorun.
Menuju ke Asumanu harus melawati jalanan yang sangat rusak. Infrastruktur masih jauh dari harapan memajukan kehidupan ekonomi masyarakat Atok Siprianus
-